Demo Site
SEJARAH KOTA SINGKAWANG RUMAH MARGA TJHIA SEMBAHYANG KUBUR
PASIR PANJANG SINKA ISLAND PULAU SIMPING
KERAMIK SAKOK

Thursday, December 2, 2010

Erupsi Gunung Merapi Purba di Singkawang

Kota Singkawang dibangun seluruhnya oleh suatu dasar/fondasi batuan granit dan granodiorit yang sangat luas. Kedua jenis batuan ini tersebar meluas, sehingga dapat diperkirakan bahwa seluruh kota Singkawang dan sekitarnya, bahkan sebagian besar wilayah Kalimantan Barat sungguh dahulu sebagai dapur magma pada kedalaman ribuan meter dibawah tanah. Dapur magma merupakan tempat sumber magma, tempat memasak cairan liat, pijar mengandung silika, aluminium dan magnesium dengan panas hingga 2600oC. Kapan, bagaimana keadaan gunung berapi saat itu dan bukti-bukti nyata, dapat dikenali di seluruh wilayah kota Singkawang serta dapatkah diupayakan adakah pemanfaatan untuk membangun kota ini?

Secara morfologis, kota Singkawang memiliki wilayah hamparan, dataran berbukit, bukit terisolir, pesisir pantai, dan laut lepas sebagai aset bagi pemerintahan kota, telah menjadi modal dasar pemandangan yang indah bagi pengembangan potensi wisata. Saat ini gunung-gunung berbentuk kerucut atau semi-kerucut merupakan sisa proses pelapukan dan erosi permukaan pada tubuh gunung yang secara alamiah membentuk kemiringan lereng. Dengan dasar batuan atau fondasi, morfologi dan tutupan vegetasi tersebut, maka tingkat kerentanan/longsoran berada pada tingkat sedang sampai rendah, karena memiliki elevasi sekitar 250 meter di atas muka laut. Daerah sepanjang pantai kota Singkawang sangat mudah terjadi abrasi pantai karena laut pasang/rob dengan ombak besar.
Potensi yang ada dalam sektor pariwisata di Singkawang dikarenakan kondisi morfologis yang menjadi berpotensi untuk dikembangkan baik secara kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Saat ini terdapat beberapa potensi pariwisata yang sudah dikembangkan, diantaranya objek bukit taman wisata Rindu Alam, dengan Sinka Island Park dan Sinka Zoo, Taman Bukit Bougenville, Taman Thidayu yang menempati di daerah berbukit. Ke arah laut lepas bisa dinikmati wisata pantai bukit Pantai Pasir Panjang, Pantai Pasir Pendek. Selanjutnya daerah dataran di pusat kota menjadi Pasar Hongkong dan Vihara Tri Dharma Bumi Raya, serta banyak lagi vihara tempat peribadatan.

Gunung Berapi Purba
Pada kedua pantai ini pula terdapat gundukan batu-batu hingga di tengah laut sekalipun, bahkan terdapat gunung-gunung di lepas pantai. Bagaimana merunut sejarah bebatuan tersebut? Apakah gunung-gunung tersebut aktif dan dapat meletus sebagaimana gunung-gunung di pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku? Gunung-gunung dan dasar batuan yang terdapat di kota Singkawang bahkan menyebar hampir seluruh Kalimantan Barat dan perairan lepas pantai tersebut berupa batuan granit dan granodiorit, asal magma berjenis asam, namun kini telah mati total. Proses pelapukan granit secara terus menerus menghasilkan pasir kuarsa yang berwarna putih, menyerupai kristal gula pasir. Hasil pelapukan yang lebih lanjut lagi dari pasir kuarsa membentuk endapan kaolin, bahan baku pembuat keramik yang sangat kuat dan keras.
Sebagai dapur magma gunung api purba, kota Singkawang dan sekitarnya di beberapa tempat bisa dijumpai endapan emas placer, hasil pelapukan batuan granit. Hanya saja, nilai ekonomis endapan placer tersebut perlu diteliti lebih lanjut. Ini dimaksudkan agar penambang perlu diberikan pengarahan cara penambangan emas yang baik dan benar, tanpa menggunakan bahan kimia seperti larutan air raksa yang akan menamatkan semua kehidupan yang dilalui aliran sungai tersebut, bahkan hingga 30 sampai 50 tahun mendapat baru bisa dipulihkan keadaannya.
Salah satu potensi wisata yang dicontohkan sebagai gunung berapi purba adalah Taman Gunung Rindu Alam, yang sebagian telah dilengkapi dengan prasarana jalan hingga menuju ke puncak gunung. Di puncak udara semakin sejuk dan sudah tersedia tempat berteduh, kursi-kursi panjang untuk melepas lelah dan tangga menuju ke puncak gunung. Batuan granit dan granodiorit pembentuk gunung ini masih dapat dijumpai blok-blok besar dengan warna segar dan warna lapuk. Warna segar kedua batuan tersebut yakni putih berbintik hitam. Warna putih berupa kristal kuarsa yang sangat keras, bintik-bintik hitam merupakan mineral hornblende yang lebih lunak. Warna lapuk umumnya berupa tanah yang berwarna merah kotor. Tanah hasil lapukan lebih lanjut berwarna merah tua dan menjadi lumpur apabila bercampur air permukaan.
Sebagai pembangun gunung Rindu Alam, batuan granit dan granodiorit masif (padat, mampat) tersebut telah mati. Bentuk gunung berapi purba tersebut diperkirakan berumur paling tua sekitar 80 juta tahun lalu atau zaman kapur. Tentunya gunung ini dulunya juga mengalami letusan atau erupsi sebagaimana yang kita lihat saat ini di gunung Merapi di Jawa Tengah dan D I Yogyakarta. Terdapat bukti-bukti erupsi gunung api purba Rindu Alam yang dapat dilihat pada batuan yang berada di puncak gunung. Batuan tersebut berwarna abu-abu yang berlobang kecil dan merata kesemua permukaan, berdiameter antara 2 dan 5 milimeter. Batuan berlobang tersebut disebut sebagai hasil lava yang mengalir dari puncak kaldera/lobang kepundan. Lobang-lobang bekas keluarnya gas saat lava panas pijar bersuhu 1200 derajat celcius mengandung gas tersebut keluar dari permukaan atau lobang kepundan. Ketika lava mencapai permukaan gunung, suhu yang mendadak dingin di permukaan menyebabkan bagian luar lava segera membeku, namun di bagian dalamnya masih berupa cairan liat pijar serta banyak mengandung gas. Lobang-lobang tersebut tempat meletupnya gas-gas di permukaan lava, sehingga membatu dan membentuk batuan yang berlobang kecil. Lobang tersebut dikenal sebagai skoria (tempat keluarnya gas).
Gunung Sari di tengah kota membentuk morfologi kerucut, juga dibangun oleh batuan granit dan granodiorit tersebut menjadi aset wisata gunung kota Singkawang. Tak ayal, investor melihat potensi ini bisa dijadikan Rindu Alam, rindu alam lainnya. Dengan catatan, tidak banyak penebangan pohon berkayu di gunung-gunung tersebut. Ini merupakan upaya sehat selain untuk mempertahankan kesejukan udara, hijaunya kawasan wisata, terpeliharanya kelerengan dan terjaganya simpanan (cadangan) air tanah yang bersih dan sehat. Jadi lengkaplah bukti-bukti adanya gunung api purba yang terbentuk sekitar zaman kapur, membentuk dapur magma, dan hasil letusan gunung berapi. Adapun lobang kepundan atau kaldera berada di puncak gunung Rindu Alam. Ke arah lepas pantai, bisa dinikmati Pantai Pasir Panjang dan Pasir Pendek, merupakan deretan pantai yang bisa dilihat jelas dari gunung Rindu Alam. Kedua pantai ini sering berair keruh karena masuknya sedimen dari gunung-gunung sekitarnya yang dibawa oleh aliran air sungai permukaan. **

Oleh : DR. Premonowati, Dosen Pembimbing Latsitardanus XXXI, Dosen Prodi Teknik Geologi, UPN Veteran Yogyakarta. [sumber]

No comments:

Post a Comment

Share On Facebook

Labels